Satu nama mengingatkan saya pada satu masa, satu cerita penuh janji dan kenangan manis. Laki-laki itu membuat saya percaya bahwa cinta sejati itu memang ada, dan cinta sejatinya adalah saya. Sayalah yang selalu meragukannya, dan dia selalu berhasil meyakinkan saya.
Begitu banyak rintangan yang kami hadapi saat itu, keluarga yang tidak begitu menyetujui hubungan kami, latar belakang keluarga dan kebiasaan yang berbeda, belum lagi jarak dan waktu yang memisahkan kami sering membuat kami berselisih.
Tapi satu hal yang membuat kami tetap kembali bersama, cinta. Entah apa yang ada dalam pikiran saya waktu itu. Begitu percaya dan yakin bahwa hubungan kami akan berakhir indah.
Sampai pada akhirnya saya mendengar dari mulutnya sendiri, saat saya bertanya kapan akan menikah ? dengan tegas dia menjawab, bahwa dia akan menikah 1 atau 2 tahun lagi entah dengan siapa. Jawaban yang jauh dari apa yang ingin saya dengar, setelah itu saya memberanikan diri untuk mengambil langkah dengan resiko cerita cinta kami berakhir.
Ya, saya membuat jarak yang semakin jauh dengannya, dengan saya pindah ke kota yang cukup jauh dari kota tempat tinggal dia. Dengan harapan, dia akan merasa kehilangan saya.
Satu hal yang saya inginkan saat itu adalah dia berusaha untuk mengejar saya, jika memang saya adalah cinta sejatinya. Saya akan lihat bagaimana dia memperjuangkan cinta sejatinya.
Kenyataan ternyata tidak berpihak pada saya. Langkah saya menjauh, justru membuat hubungan kami berakhir. Keinginan yang saya pendam tidak pernah dia sadari.
Bukan cinta kami yang berakhir yang membuat saya sedih, bukan cerita kami yang akhirnya kandas yang membuat saya menangis. Bukan langkah saya pergi menjauh yang membuat saya menyesal, bukan pula keinginan dan harapan yang tidak saya utarakan yang akhirnya membuat saya menyesal.
Saya bersedih karena saya sadar
bahwa cinta-nya tidak sebesar ucapan dan janjinya dulu. Kenangan manis cerita kami yang membuat saya menangis. Saya menyesali, keterlambatan saya mengambil langkah untuk membuktikan bahwa saya adalah cinta sejatinya.
Terluka itu pasti, tapi saya tidak pernah bisa membenci sosok laki-laki yang telah mengisi hidup saya dengan cerita cinta sejati itu.
Sedih itu pasti, tapi saya tidak pernah bisa menghapus cerita kami dalam ingatan saya.
Kekosongan dalam hati ini yang akan mengantarkan saya pada cinta lain yang lebih indah, dan itu pasti.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar